Leader%20board%20970%20x%2090%20px%20(3)
JADWAL SHALAT  Subuh 04:35 WIB | Dzuhur 11:47 WIB | Ashar 14:59 WIB | Maghrib 17:49 WIB | Isya 18:54 WIB

KESEHATAN & KULINER

Tocilizumab Mampu Mengobati Rematik

Rematik (Artritis Rematoid) adalah penyakit autoimun dimana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat, menyebabkan kerusakan sendi dan umumnya terjadi pada rentang usia produktif namun tidak sedikit pasiennya berusia lanjut karena rusaknya jaringan melalui keausan

Selasa, 18 September 2012 09:25 zak | red|
Tocilizumab Mampu Mengobati Rematik
ilustrasi penyakit rematik
Jakarta

Jakarta,POL -- ERA teknologi telah mempengaruhi kehidupan di muka bumi yang membawa manusia ke hal-hal yang serba instan, menyebabkan  banyak  penyakit yang timbul dengan jenis yang berbeda tanpa diketahui penyebabnya.

Bila dilihat munculnya jenis  penyakit yang  menyerang tubuh kadang tidak diketahui jenis penyakit apa yang sedang dialami. Orang merasakan penyakit ini  hanya alergi  biasa saja  sehingga mereka tidak menyadari bahwa penyakit ini lama kelamaan menjadi parah.

Artritis Rematoid (AR) adalah penyakit autoimun dimana sistem kekebalan tubuh menyerang  jaringan sehat, menyebabkan  kerusakan sendi dan umumnya terjadi  pada rentang usia produktif namun tidak sedikit pasiennya berusia lanjut  karena rusaknya jaringan melalui keausan.

Gejala awalnya ditandai oleh peradangan  kronis dan sendi pada tangan dan kaki yang disertai dengan gejala gejala sistemik seperti  kelelahan, anemia, depresi serta berat badan menurun drastis.

“Orang menganggap Artritis Rematoid sebagai sendi biasa dan mereka tidak mencari pengobatan yang tepat dan apabila penyakit ini tidak segera diobati maka penderitanya mengalami kelumpuhan sehingga menjalar rusaknya tulang, “kata  Dr. Harry  Isbagio, KR Pricipal Investigator ACT  UP.

Dalam dua tahun pertama tambah Harry   pasien  Artritis Rematoid mencapai 70% memiliki kerusakan  tulang  yang terbukti dari hasil X-ray. Tujuan utama dari management penyakit Artritis  Rematoid adalah untuk  memulai pengobatan sejak dini dengan obat yang efektif untuk memperlambat perkembangan  penyakit dan mencegah kerusakan sendi.

“Diperkirakan penyakit ini menimpa sekitar 79 juta orang diseluruh dunia termasuk di indonesia, “ujarnya.

Kepada PelitaOnline, Harry  mengatakan bahwa penyakit ini sampai sekarang belum diketahui penyebabnya, bahkan sulit untuk dideteksi dan  yang penting harus di lakukan pengobatan awal serta pencegahan sejak dini.

Maka dari itu  Harry  mengharap kepada masyarakat  agar sadar tentang bagaimana mencegah dan mengobati penyakit ini  sedini mungkin karena ada  seratus jenis penyakit rematik  yang  tidak disadari oleh seseorang bahwa itu adalah awal dari penyakit Artritis  Rematoid .

Untuk mengobati para pasien maka diperlukan pengobatan lewat cara Toraphi Tocilizumab. Tocilizumab yang di kenal juga dipasaran dengan nama ACTEMRA adalah penelitian kolaborasi dengan Shugai yang dikembangkan secara global. Tocilizumab  adalah yang pertama dikelas  pengobatan Artiritis Rematoid  dengan menargetkan reseptor interleukin-6 (IL-6)” adalah zat kimia dalam tubuh  yang menyebabkan rasa sakit dan peradangan yang sistemik menetap yang dialami penderita Artritis Rematoid .

Pada penderita AR terjadi kelebihan produksi IL-6. Ini tidak hanya menyebabkan peradangan dan kerusakan sendi dalam jangka panjang, tapi juga dapat menyebabkan serangkaian  komplikasi lain pada tubuh diantaranya Anemia, kelelahan (futigue), penurunan berat badan, meningkatkan resiko penyakit jantung dan Osteoporosis.

Pengobatan Artritis Rematoid sejak dini sangat penting untuk mencegah kerusakan sendi permanen dan pemburukan penyakit. Tocilizumab menghambat reseptor IL-6 dan mengurangi dampak IL-6 dan mencegah Artritis Rematoid berkembang semakin buruk baik pada sendi maupun  keseluruhan tubuh.

Disamping itu ada beberapa jenis penanganan pasien Artritis Rematoid, memodifikasi perjalanan penyakit dimana pada pemberian obat ini hanya untuk menangani tanda dan gejalanya seperti obat Biologis adalah obat rekayasa genetika yang menargetkan penanda permukaan sel tertentu, Obat pemodifikasi Artritis Rematoid Tradisional (DMARDs), Glukokotikoid dan Obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID) obat ini mengurangi rasa sakit, bengkak dan peradangan.

Pengakuan Pasien.

Faiqotul Hikmah (23)

Sejak usia 14 tahun Fika, sapaanya, sudah menderita penyakit AR dimana rasa nyeri  selalu membayangi  tubuh bungsu dari empat bersaudara  yang  awalnya biasa saja lama kelamaan menjadi parah.

Kini diusianya yang ke 23 tahun membuatnya harus bertekuk lutut pada penyakit yang dihadapinya. Ia mulai merasakan sakit pada sendi-sendi terutama pada saat naik turun tangga.  Akibatnya,  Artritis Rematoid  telah membuat sendi  mengalami perubahan  terutama pada tangannya hingga menonjol.

Demam dan seriawan cukup parah dialaminya, hingga ia bolak-balik antara Cikeas dan Surabaya untuk berobat dan beristirahat secukupnya bahkan Ia rela  mengurungkan niatnya untuk mendapatkan keturunan.

Monoterapi Tocillizumab,  salah satu  studi klinis di Surabaya  adalah akhir dari penderitaanya dan kini penantian si buah hati yang Ia impi-impikan akan terwujud.

Adjat Sudrajat  (44)

Sebagai kepala keluarga tentunya Ia menjadi tumpuan harapan keluarga dan masyarakat. Penyakit ini telah membuatanya tidak bisa bekerja secara optimal karena sakit  yang dialaminya terus menerus dirasakan.

Namun  berkat tangan dinginnya Dr. Rachmat Gunadi. Sp-PD dalam mengikutsertakan Adjat  dalam Studi Klinis “PICTURE INA” lewat pengobatan Monoterapi Tocillizumab membuatnya bernapas lega setelah diobati  selama 24 minggu.

Tubuhnya yang kaku seakan tidak ada harapan untuk hidup, kini bangkit lagi dengan harapan yang baru bisa ceria bersama keluarga dan bisa menunaikan kewajibannya seperti sholat lima waktu meskipun belum sempurna.  Bagi Adjat pengobatan  Tocilizumab memberinya spirit untuk hidup, rasa nyeri sendi yang diderita telah terkubur dalam sekejab.

Ditempat yang sama, Dr. Arya Wibitomo dalam keterangan persnya bahwa hasil studi  Klinis tersebut “Picture INA” memperlihatkan hasil positif terhadap efikasi dan keamanan Tocilizumab yang menjadi harapan baru bagi penderita AR di Indonesia.

“Studi klinis dilakukan dengan pemberian infus Tocilizumab sebanyak 6 kali dengan rentang waktu 1 bulan diantara masing masing infus dan setelah 24 minggu PICTURE INA sudah menunjukkan hasil nyata Tocilizumab, “jelasnya.

Ia menambahkan, bahwa pasien mengalami penurunan indikasi tingkat inflamasi sejak infus pertama. Kondisi ini berlanjut sampai akhir penelitian dengan penurunan sebanyak 85 % dan mencapai normal. Demikian juga nilai Hemoglobine normal sejak infus pertama

Sebagai Direktur Roche Indonesia ,Mike Crihton menyatakan bahwa studi klinis terhadapa perawatan Tocilizumab di Indonesia telah terdaftar dengan nama Actemra.

“Menyusul keberhasilan studi “PICTURE INA”, Indonesia Reumatology Association (IRA) dan Roche Indonesia kembali berkolaborasi memprakarsai studi bernama ACT UP untuk mengamati penggunaan  Tocilizumab dalam praktek klinis pada pasien AR sesuai dengan indikasi yang sudah di setujui di Indonesia, “ujarnya.

Dibaca 1086 kali

Pelita Online hari ini
Tinggalkan komentar....